Tak lama kemudian ibu katak meninggal. Anak katak merasa sedih dan menyesal karena selama ini sudah nakal. Untuk menebus kesalahannya, anak katak bertekad melakukan perintah ibunya yang terakhir. Maka dikuburkanlah ibunya di tepi sungai.
Tetapi tepi sungai sering terkena banjir. Jika hujan turun, airnya meluap sampai ke tepinya. Anak katak takut kuburan ibunya akan terbawa banjir. Maka setiap hujan turun, ia pergi ke tepi sungai dan berteriak memohon pada hujan agar tidak membawa pergi kuburan ibunya. Karena itulah kita sering mendengar katak berbunyi saat hujan turun.
Akibat musim kemarau yang sangat panjang, banyak sumber air menjadi kering. Hewan hewan menjadi kehausan. Begitu juga si gagak. Ia terbang ke sana kemari mencari air.
Akhirnya Ia melihat air di dalam sebuah kendi. Sayangnya kendi itu sangat dalam dan airnya sedikit, sehingga gagak tidak bisa meminum airnya. Gagak memikirkan cara agar Ia bisa minum.
Gagak melihat setumpuk batu di dekat kendi. Akhirnya gagak punya akal! Ia memasukkan batu satu per satu ke dalam kendi. Batu itu membuat dasar kendi semakin dangkal.