Menurut lelaki itu, kendala geografis menjadi salah satu faktor penyebab anak-anak di Gunung Geulis putus sekolah. Pasalnya, SMP terdekat dari desa itu berjarak sekitar 2-4 km dengan medan yang penuh dengan tanjakan dan turunan curam.
Bagi orang tua yang memiliki sepeda motor, jarak tempuh tersebut mungkin tidak terlalu menjadi masalah. Akan tetapi, bagi mereka yang tidak punya kendaraan, jarak itu cukup memberatkan bagi anak-anak usia sekolah untuk ditempuh setiap hari.
Karena itulah, Mubarok dan para guru di al-Badriyah memiliki cita-cita untuk terus membangun madrasah yang mereka kelola, sehingga kelak dapat melanjutkannya dengan mendirikan sekolah untuk jenjang tsanawiyah atau SMP. “Dengan begitu, kami berharap anak-anak tidak perlu lagi pergi jauh-jauh cari SMP, dan angka putus sekolah di desa ini pun bisa turun secara signifikan,” kata Mubarok.
Dia menuturkan, semua murid di MI al-Badriyah dibebaskan alias digratiskan dari biaya SPP. Sementara untuk menggaji para guru, pihak yayasan mengandalkan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) yang dikucurkan oleh Kementerian Agama.
Selain “Jurnalis BRI Mengajar”, kegiatan kemarin juga diisi dengan penyerahan bantuan renovasi sekolah dari BRI kepada MI al-Badriyah senilai Rp500 juta. Selain itu, ada pula bantuan peralatan belajar untuk semua murid di madrasah itu. Bantuan diserahkan secara simbolis oleh Senior Manager CSR BRI, M Ganjar Nugraha, kepada Mubarok.