"Jadi kita keluarkan ini sebagai simbol kalau kita nggak mau harga naik dan kita mau harga turun karena itu berhubungan langsung sama kita yang mengelola kehidupan memasak sehari-harinya dan mengelola dapur hari-harinya. Jadi kita bawa alat-alat dapur," ujarnya.
Selain alat dapur, mayoritas peserta juga mengenakan pakaian bernuansa pink, mulai dari daster, kerudung, kaos, hingga kebaya. Afifah mengatakan warna tersebut dipilih karena memiliki kedekatan dengan sejarah perlawanan perempuan.
"Pink itu kan dekat sama sejarah perlawanan perempuan juga. Pink itu kayak tanda simbol berani," katanya.
Menurut Afifah, penggunaan warna pink juga menjadi pesan bahwa perempuan tidak hanya berperan sebagai pendukung dalam sebuah gerakan, melainkan mampu memimpin perjuangan politik dan sosial.
"Kan selalu ada stigma perempuan itu kayak hanya pengikut. Dengan pink itu menunjukkan kalau kita gerakan yang bisa juga memimpin politik perlawanan rakyat," ujarnya.