Sementara, Nashiruddin memotret sendiri para wanita haremnya. “Jumlah mereka lebih dari 100 orang,” ungkap jurnalis Alarabiyah, Diaa Nasser, dalam artikel berjudul What were beauty standards like in Iran during the 19th century? yang dipublikasikan pada 2017.
Setelah memotret para haremnya, sang raja akan memproses foto-foto itu di kamar gelap, sebelum akhirnya dia simpan di Istana Golestan—yang kini telah berubah statusnya menjadi museum—di ibu kota Iran, Teheran.
Pada waktu itu, kata Nasser, tradisi fikih Syi’ah melarang memotret perempuan. Namun, dalam praktiknya, hanya raja yang bisa menerobos batas hukum tersebut.
Jika kita melihat dari dekat foto-foto para istri Nashiruddin di depan kamera, mereka tampak begitu rileks dan santai. “Ini menunjukkan bahwa istri-istri Nashiruddin Shah berasal dari kelas atas, atau mungkin dari keluarga bangsawan yang mengabaikan tradisi sosial yang berlaku (pada masa itu),” kata Nasser.
Foto-foto itu juga mencerminkan persahabatan yang terjalin di antara para harem atau istri raja. Mereka begitu rukun dan tak ada permusuhan yang tampak di wajah mereka. Saat mereka berdiri berdampingan di depan kamera, mereka diketahui sering bepergian bersama.