GAZA, iNews.id - Di tengah gencatan senjata yang seharusnya memberi ruang bagi pemulihan kemanusiaan, Israel justru terus meningkatkan operasi militernya di Jalur Gaza. Serangan udara, pengerahan tank, hingga pembatasan bantuan kemanusiaan membuat kondisi warga Palestina semakin memburuk.
Data terbaru hasil analisis media Qatar, Al Jazeera, Israel melanggar perjanjian gencatan senjata hampir 400 kali sejak diberlakukan pada 10 Oktober 2025.
Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza pada Kamis (20/11/2025) melaporkan, setidaknya 32 warga tewas dan 88 lainnya luka akibat serangan dalam 24 jam. Salah satu serangan menargetkan sebuah rumah di Bani Suheila, timur Khan Younis, menewaskan tiga orang termasuk seorang bayi perempuan.
400 Pelanggaran sejak 10 Oktober
Otoritas Gaza mencatat, sejak gencatan senjata berlaku pada 10 Oktober, Israel telah melakukan hampir 400 pelanggaran, meliputi serangan udara ke kawasan pemukiman, tembakan artileri ke beberapa distrik, penembakan langsung terhadap warga Palestina, pembatasan masuknya bantuan kemanusiaan berupa makanan, air, bahan bakar, obat-obatan, hingga tenda, yang jumlahnya bahkan tidak mencapai separuh dari yang dijanjikan.
Pelanggaran berulang ini memperburuk kondisi kemanusiaan di Gaza, yang kini menghadapi krisis makanan, obat-obatan, dan tempat tinggal akibat hancurnya infrastruktur.