Ramesh duduk di kursi 11A, dekat jendela. Saat pesawat terbakar setelah menghantam tanah, dia secara ajaib masih bernapas. Rekaman amatir yang beredar menunjukkan dirinya berjalan tertatih menjauh dari reruntuhan pesawat yang diselimuti asap, tubuhnya penuh luka dan debu.
Namun di balik keberuntungan itu, dia harus menerima kenyataan pahit, adiknya, Ajay (27), yang duduk beberapa kursi darinya, tewas di tempat.
Bertahan Hidup dengan Luka yang Tak Terlihat
Ramesh kini tinggal di rumahnya di Leicester, Inggris, setelah berbulan-bulan dirawat intensif di rumah sakit India. Luka fisiknya masih terasa hingga kini, sakit di kaki, bahu, lutut, dan punggung akibat benturan keras saat mencoba keluar dari reruntuhan.
Namun, luka paling dalam bukan di tubuh, melainkan di pikirannya. Dia menderita gangguan stres pascatrauma (PTSD) yang parah.
“Saya tidak bisa tidur. Setiap kali menutup mata, saya kembali ke momen itu, jeritan, api, bau asap, dan adik saya yang tak lagi bernapas,” ujarnya.