Sebelumnya penasihat IRGC Ibrahim Jabari mengatakan Iran akan menyerang kapal apa pun yang melintasi Selat Hormuz.
"Amerika Serikat rakus akan minyak. Beri tahu mereka bahwa kami sekarang telah menutup Selat Hormuz dan tidak akan mengizinkan kapal-kapal melewatinya," kata Jabari.
Dia memperkirakan penutupan jalur air penting tersebut akan mendorong harga minyak naik hingga 200 dolar per barel, berpotensi menimbulkan masalah bagi perekonomian AS.
Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Pantai utara milik Iran, sedangkan pantai selatan milik Uni Emirat Arab (UEA) dan Oman. Selat ini merupakan jalur penting untuk pasokan minyak dan gas alam cair (LNG).
Al Jazeera, mengutip sumber pelabuhan Irak, melaporkan biaya pengiriman laut ke Irak naik 60 persen karena tarif asuransi yang lebih tinggi.
Sejauh ini tujuh kapal tanker minyak tertahan di perairan Irak, menunggu Selat Hormuz dibuka kembali.
IRGC pada Minggu (1/3/2026) melancarkan serangan rudal terhadap tiga kapal tanker AS dan Inggris di Teluk Persia dan Selat Hormuz. Sehari kemudian satu kapal tanker AS dihantam oleh dua drone Iran di Selat Hormuz.