“Tidak ada pembenaran atas pengurangan kemiskinan dengan memaksa sterilisasi atau mengambil anak-anak dari orang tua mereka untuk diajar kembali di sekolah asrama yang dijalankan oleh negara,” kata dia menambahkan.
Menanggapi bahasan Pompeo tersebut, Yahya Cholil Staquf—yang menjabat sebagai katib ‘aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)—mengatakan, informasi mengenai isu Muslim di Xinjiang saat ini menjadi kabur. Itu lantaran terdapat bias di tengah konflik China-AS.
“Yang kami butuhkan sekarang adalah akses terhadap informasi yang faktual, dan kami menuntut semua pihak, Amerika maupun China, untuk jujur dalam hal ini, karena keadaannya saat ini jika mengecam China maka dianggap pro-Amerika, juga sebaliknya,” ujar Yahya, ditemui usai acara yang sama.
Yahya menyatakan bahwa sikap NU atas isu Muslim Uighur pun masih belum final dan organisasi itu masih mendalami kebenarannya dengan menunggu mendapatkan informasi yang tepat agar tidak masuk ke dalam situasi bias tersebut.
“Tetapi jelas, jika memang benar terjadi pelanggaran hak asasi (Muslim Uighur di Xinjiang, red), kami tidak akan tinggal diam sebagaimana selama ini kami tidak tinggal diam terhadap nasib rakyat Palestina,” katanya.