Lebih lanjut, Lieberman mengatakan dengan tegas bahwa melenyapkan Hamas seperti yang diklaim sebagai tujuan utama perang adalah hal mustahil jika Israel belum menyelesaikan persoalan penyanderaan.
“Tidak mungkin melenyapkan Hamas kecuali semua sandera dibebaskan,” katanya.
Pembebasan para sandera hanya dapat dicapai melalui kesepakatan gencatan senjata. Namun, inilah titik krusialnya: Hamas menuntut syarat utama berupa penghentian perang secara permanen sebagai dasar dari kesepakatan gencatan senjata. Dengan kata lain, jika Israel tetap ingin membebaskan sandera namun menolak mengakhiri perang, maka tujuan itu akan selalu bertabrakan.
Sementara itu, perundingan gencatan senjata yang dimediasi secara tidak langsung di Doha, Qatar, sejak 6 Juli lalu belum membuahkan hasil konkret. Namun, secercah harapan muncul setelah seorang sumber yang dekat dengan Hamas mengungkapkan bahwa kelompok perlawanan tersebut telah menerima peta terbaru yang diusulkan para mediator. Peta itu memuat wilayah-wilayah di Gaza yang masih akan berada di bawah kendali Israel pasca-gencatan senjata.
Kini, Hamas sedang berkonsultasi dengan faksi-faksi perlawanan lain untuk mengevaluasi peta tersebut, sebelum menentukan sikap lebih lanjut.
Pernyataan Lieberman memperkuat pandangan bahwa konflik berkepanjangan di Gaza bukan hanya soal militer, tetapi juga strategi politik yang sarat kalkulasi kekuasaan. Dengan jumlah sandera yang masih signifikan dan ketidakjelasan arah perundingan, masa depan perang ini tampaknya akan terus menjadi perdebatan panas di dalam Israel sendiri.