Para menteri juga membahas bantuan untuk pemerintah daerah serta ekonomi lokal, guna membantu penduduk, menjelang dimulainya rekonstruksi.
Lebanon dan Israel pada 26 Mei lalu meeneken perjanjian kerangka kerja di bawah mediasi AS, mengatur penarikan bertahap pasukan Israel dari wilayah Lebanon.
Namun, perjanjian tersebut tidak menetapkan jadwal penarikan penuh pasukan Zionis. Perjanjian tersebut juga mengaitkan penarikan pasukan Israel dengan tanggung jawab keamanan yang akan diambil alih oleh tentara Lebanon serta pelucutan senjata kelompok Hizbullah.
Para pejabat Lebanon mengatakan perjanjian tersebut merupakan langkah pertama menuju pemulihan kedaulatan atas seluruh wilayahnya serta pemulangan para pengungsi ke kota mereka.
Namun, Hizbullah menyebut perjanjian itu batal demi hukum, dengan menyatakan mengaitkan penarikan Israel dengan pelucutan senjata kelompok mereka melanggar semua garis merah.
Sejak 2 Maret, serangan Israel di Lebanon telah menewaskan lebih dari 4.300 orang dan melukai lebih dari 12.000 lainnya.
Pasukan Israel juga terus menduduki wilayah-wilayah di Lebanon Selatan, beberapa di antaranya telah dikuasai sejak puluhan tahun, sementara lainnya direbut selama perang 2023-2024. Setelah itu, miilitet Zionis maju lebih dalam ke wilayah Lebanon, yakni 10 kilometer lebih, selama serangan terbaru sejak 2 Maret.