"Teknologi deepfake mempersulit untuk membedakan apakah sesuatu yang dibuat-buat itu nyata atau karikatur. Kebingungan ini membuatnya semakin berbahaya," kata Bae.
Jumlah korban deepfake yang meminta bantuan lembaga pemerintah untuk menangani kejahatan seksual digital berjumlah 781 orang pada periode 1 Januari hingga 25 Agustus 2024. Sebanyak 288 di antaranya, atau 36,9 persen, adalah anak di bawah umur.
Sementara itu Kementerian Pendidikan Korsel telah menerima 196 laporan kerusakan akibat kejahatan seks deepfake di antara siswa dan guru pada periode yang sama.
Seorang fotografer yang meminta identitasnya dirahasiakan menghentikan sementara untuk mengunggah wajah model karena kekhawatiran menjadi korban deepfake.
Presiden Korsel Yoon Suk Yeol dalam rapat kabinet, Selasa (2/9/2024), memerintahkan pihak berwenang untuk segera membasmi kejahatan seks digital dan menyebutnya sebagai tindakan kriminal yang nyata.
Pemerintah juga telah mengumumkan serangkaian tindakan, termasuk memperberat hukuman bagi pelaku kejahatan seks deepfake, mendorong pengamanan ponsel yang menggunakan Telegram, bahkan menghukum siapa saja yang menyimpan materi pornografi deepfake di perangkat mereka.