Beberapa saksi mata mengatakan, pagar kawat berduri di sekitar kamp membuat banyak korban terjebak saat kebakaran terjadi. Hingga kini belum diketahui tingkat kerusakan di lokasi yang menampung lebih dari satu juta pengungsi Rohingya itu.
“Banyak anak hilang, dan beberapa korban tidak dapat melarikan diri karena kawat berduri dipasang di kamp,” kata salah satu saksi mata.
Perwakilan organisasi hak asasi Fortify Rights, John Quinley, mengatakan pagar kawat berduri juga menghambat distribusi bantuan kemanusiaan dan layanan vital di kamp-kamp itu. Pihaknya telah lama meminta otoritas setempat untuk membongkar penghalang tersebut.
“Sekarang malah terjadi kebakaran besar di sana, termasuk kebakaran besar pada Januari lalu. Pihak berwenang harus melakukan penyelidikan atas penyebab kebakaran tersebut,” ujar Quinley.
Sebagian besar kelompok Rohingya di kamp-kamp itu melarikan diri dari Myanmar pada 2017, di tengah serangan brutal oleh pimpinan militer negara itu terhadap kaum minoritas yang menurut para penyelidik PBB memiliki unsur genosida.