Kaleidoskop 2022: Perang Rusia-Ukraina dan Dampaknya terhadap Geopolitik

Ahmad Islamy Jamil
Tank-tank pasukan pro-Rusia melintas di salah satu jalan di Kota Mariupol, Ukraina, Maret lalu. (Foto: Reuters)

Negara-negara yang sudah memiliki komitmen kuat terhadap energi terbarukan, seperti Jerman misalnya, terpaksa kembali menggunakan batu bara untuk memenuhi kebutuhan energinya. Bahkan, beberapa pembangkit batu bara yang sudah ditutup sebelumnya di negara itu, kini beroperasi lagi. Langkah tersebut mencederai cita-cita Berlin untuk menyetop 100 persen penggunaan energi fosil itu sepenuhnya pada 2030.

Sementara negara-negara maju lainnya seperti Jepang dan Amerika Serikat, terpaksa melepaskan cadangan minyak mentahnya demi mengatasi kelangkaan energi sebagai imbas dari Perang Rusia-Ukraina. Pada April lalu misalnya, Tokyo mengumumkan pelepasan cadangan minyak terbesar sepanjang sejarah negeri samurai itu, yakni mencapai 15 juta barel. Sementara Amerika Serikat pada periode yang sama melepaskan sebanyak 60,5 juta barel dari Strategic Petroleum Reserve (SPR) alias Cadangan Minyak Strategis-nya.

Secara total, negara-negara anggota International Energy Agency (IEA) atau Badan Energi Internasional, termasuk AS dan Jepang, sepakat untuk merilis stok cadangan minyak sebanyak 180 juta barel dari gudang penyimpanan mereka. Dengan begitu, mereka berharap kenaikan harga minyak di pasar global bisa ditekan.

Konsolidasi Barat vs Rusia

Perang di Ukraina saat ini sejatinya tidak saja melibatkan dua negara bekas Uni Soviet. Ada intervensi pihak ketiga dalam konflik itu. Seperti disinggung sebelumnya, negara-negara Barat, terutama AS dan sekutu NATO-nya, telah mengambil posisi membeking Ukraina. Mereka menggelontorkan banyak uang dan persenjataan untuk menyokong Kiev melawan gempuran Moskow. Berbagai peralatan militer pun mereka kirim ke Ukraina, mulai dari barang-barang yang sudah usang hingga yang canggih seperti FIM-92 Stinger dari AS dan rudal Starstreak kiriman Inggris.

Sampai sejauh ini, krisis Ukraina tampaknya telah membuat negara-negara Barat semakin terkonsolidasi. Agresi Rusia mendorong mereka untuk bersatu. Karenanya, tidak heran jika sebagian analis militer menilai perang di Ukraina saat ini bukanlah antara Kiev melawan Moskow, melainkan Barat versus Rusia. Ukraina hanya menjadi arena pertempuran bagi NATO dan Rusia.

Editor : Ahmad Islamy Jamil
Artikel Terkait
57 tahun lalu

Melunak, Trump Tiba-Tiba Bilang Ingin Bertemu Pemimpin Iran Mojtaba Khamenei

57 tahun lalu

Trump Jagokan Wapres JD Vance-Menlu Rubio Maju Pilpres AS 2028: Mereka Tak Terkalahkan!

57 tahun lalu

DPR AS Sahkan Resolusi Batasi Wewenang Trump dalam Perang Iran

57 tahun lalu

Kuwait Tegaskan Tak Izinkan Negara Mana pun Gunakan Wilayahnya Serang Iran

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal