Rusia menyatakan, operasi khususnya tersebut hanya menyasar fasilitas militer yang ada di Ukraina. Moskow pun telah berulang kali membantah menargetkan warga sipil saat melancarkan serangannya. Namun fakta berkata lain. Sejak pasukan Rusia mulai menyerang negeri tetangganya itu pada 24 Februari, banyak nyawa warga yang melayang.
Lebih dari 100 Rudal Rusia Dilaporkan Hujani Kota-Kota Ukraina
Data yang dihimpun Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) dari 24 Februari hingga 27 Desember 2022 menunjukkan, terdapat 17.831 warga sipil yang menjadi korban perang Rusia-Ukraina. Perinciannya, 6.884 orang meninggal dunia, sedangkan sebanyak 10.947 lainnya luka-luka.
Amerika Serikat dan para sekutunya, termasuk Uni Eropa, telah menerapkan berbagai macam sanksi terhadap Rusia, dengan harapan Moskow akan kehilangan sumber pendapatan untuk mendanai perangnya sehingga konflik pun dapat berakhir. Namun, harapan itu tampaknya masih jauh panggang dari api, walau ekonomi Rusia memang terpukul—bukan saja akibat sanksi yang bertubi-tubi dari Barat, tetapi juga karena kebijakan Putin sendiri.
Rusia: Politisi Ukraina Tak Punya Kemampuan untuk Bernegosiasi
Harga minyak melambung
Dampak perang tidak hanya berdampak pada dua negara rumpun Slavia itu. Secara global, pengaruh agresi militer Rusia di Ukraina juga menyebabkan gangguan terhadap aspek ekonomi dan sosial-politik global.
Balas Dendam! Rusia Usir Diplomat Lithuania, Diminta Angkat Kaki dalam 5 Hari
Harga rata-rata minyak mentah dunia (Brent, Dubai, dan WTI) melambung tinggi, mencapai 116,8 dolar AS per barel pada Juni 2022 (data IndexMundi). Harga bahan bakar lainnya seperti gas alam cair (LNG), juga mengalami kenaikan di Eropa karena kelangkaannya di pasar Eropa. Sementara Moskow mengurangi pasokan gasnya yang selama ini mengalir lewat jaringan pipa yang menghubungkan Rusia ke Benua Biru.