Kaleidoskop 2022: Perang Rusia-Ukraina dan Dampaknya terhadap Geopolitik

Ahmad Islamy Jamil
Tank-tank pasukan pro-Rusia melintas di salah satu jalan di Kota Mariupol, Ukraina, Maret lalu. (Foto: Reuters)

Jika ditelusuri lagi sejarahnya, NATO didirikan negara-negara Barat untuk melawan Uni Soviet dan membendung pengaruh komunisme secara global. Namun, Uni Soviet membuarkan diri pada akhir 1991. Sejak itu, Rusia mengambil peran sebagai representasi negara komunis tersebut di Dewan Keamanan PBB.

Agresi Rusia di Ukraina juga menyebabkan sedikit perubahan pada arsitektur keamanan di Eropa. Swedia dan Finlandia memutuskan untuk bergabung ke dalam NATO. Padahal, selama era Perang Dingin, dua negara Nordik itu selalu mengambil posisi netral. Keputusan mereka itu dilatarbelakangi oleh rasa terancam mereka atas tindakan Moskow menyerang Ukraina.

Sementara di lain pihak, Rusia pun terus memperkuat pengaruhnya di Belarusia—salah satu negara yang menadi penyangga antara negeri beruang merah dan Eropa Barat. Moskow pun memasok berbagai persenjataan canggih ke Minsk. Baru-baru ini, Rusia dilaporkan mengirimkan sistem pertahanan udara S-400 dan sistem rudal Iskander ke Belarusia. Lewat langkah tersebut, Moskow ingin meningkatkan efektivitas pertahanan udara bersama kedua negara. 

Terganggunya rantai pasokan global

Krisis Ukraina juga menyebabkan terganggunya rantai pasokan global. Dampak tersebut antara lain berlaku pada pengiriman bahan makanan di Laut Hitam. Sejak Rusia menggempur Ukraina, kegiatan ekspor gandum dan biji-bijian lewat jalur laut itu sempat terhenti selama beberapa bulan. 

Pada 22 Juli 2022, atas mediasi oleh Turki dan PBB, Rusia dan Ukraina akhirnya menandatangani kesepakatan penting di Istanbul. Kedua negara bekas Soviet itu setuju untuk membuka kembali berbagai pelabuhan Ukraina di Laut Hitam. Dengan begitu, Kiev dapat mengekspor lagi jutaan ton gandum dan biji-bijian lainnya yang telah terjebak di gudang-gudang penyimpanan Ukraina selama agresi militer Rusia.

Kesepakatan tersebut bernilai penting, karena dapat mengurangi krisis pangan global. Apalagi, Ukraina adalah salah satu eksportir gandum terbesar di dunia. Produksi gandum negara itu cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan bagi 400 juta orang per tahun.

Krisis Ukraina juga menyebabkan gangguan pada pasokan pupuk global. Di beberapa negara, harga pupuk naik berkali-kali lipat karena langka. Hal itu memberatkan para petani. Selama ini, Rusia memang dikenal sebagai negara penghasil bahan pupuk utama di dunia.

Editor : Ahmad Islamy Jamil
Artikel Terkait
57 tahun lalu

Melunak, Trump Tiba-Tiba Bilang Ingin Bertemu Pemimpin Iran Mojtaba Khamenei

57 tahun lalu

Trump Jagokan Wapres JD Vance-Menlu Rubio Maju Pilpres AS 2028: Mereka Tak Terkalahkan!

57 tahun lalu

DPR AS Sahkan Resolusi Batasi Wewenang Trump dalam Perang Iran

57 tahun lalu

Kuwait Tegaskan Tak Izinkan Negara Mana pun Gunakan Wilayahnya Serang Iran

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal