“Kami mendukung penyelidikan menyeluruh terhadap perkara tersebut,” kata Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS, Ned Price.
Dia mengatakan, Departemen Luar Negeri AS menyatakan belasungkawa kepada keluarga korban dan menawarkan untuk memberikan bantuan konsuler.
Keluarga As'ad menunda pemakamannya hingga Kamis (13/1/2022) ini untuk memungkinkan pemeriksaan jenazah korban. Seorang dokter di Tepi Barat, Islam Abu Zaher, mengaku telah mencoba menyadarkan As'ad tetapi tidak menemukan denyut nadi korban. Dia mengatakan, tidak ada tanda-tanda cedera yang jelas dan penyebab kematiannya juga masih belum diketahui.
“Ada kemungkinan dia mengalami serangan jantung atau semacam kepanikan,” kata Abu Zaher kepada Reuters.
Menurut catatannya, As'ad sebelumnya memang pernah menjalani operasi jantung terbuka dan kateterisasi jantung. “Kami masih perlu melakukan otopsi,” ujarnya.