Abdallah sedang bersama sekelompok jurnalis dari organisasi lain, termasuk Aljazirah dan Agence France-Presse (AFP), ketika dia dibunuh pada Jumat kemarin saat memberikan sinyal video langsung kepada lembaga penyiaran. Kelompok tersebut bekerja di dekat Desa Alma al-Shaab, dekat perbatasan Israel, tempat militer zionis dan para pejuang Hizbullah saling baku tembak dalam bentrokan perbatasan.
Maher Nazeh, yang terluka dalam insiden yang sama bersama rekannya di Reuters, Thaer al-Sudani, mengatakan bahwa mereka sedang merekam tembakan rudal yang datang dari arah Israel ketika salah satu rudal menghantam Abdallah saat dia sedang duduk di dinding batu rendah dekat kelompok jurnalis itu. Beberapa detik kemudian, rudal lain menghantam mobil yang digunakan kelompok tersebut dan membakarnya.
Laman berita lain, termasuk Associated Press (AP) dan Aljazirah, juga mengatakan bahwa rudal tersebut berasal dari Israel, meski belum dapat dipastikan apakah peluru itu benar-benar ditembakkan oleh Israel.
AFP dan Aljazirah masing-masing mengatakan dua jurnalis mereka terluka dalam insiden tersebut.