Sementara pengacara keluarga Hallak, Khalid Zabarkah mengatakan, upaya Kementerian Kehakiman Israel kali ini belum cukup untuk memberikan hukuman yang setimpal kepada polisi pembunuh itu. “Keputusan (kementerian) itu penting, tapi belum cukup. Iyad tidak menimbulkan bahaya apa pun untuk dijadikan sasaran dan dibunuh dengan cara yang buruk seperti ini,” kata Zabarkah.
Menurut Kementerian Kehakiman Israel, polisi di tempat kejadian meyakini Hallak adalah teroris karena perilakunya yang “mencurigakan”. Ketika dicegat polisi, Hallak disebut-sebut “melarikan diri”, sehingga membuat aparat mengejar korban.
Keluarga Hallak mengatakan, meski berumur 31 tahun, korban masih memiliki mental usia delapan tahun karena autisme yang disandangnya. Sejumlah saksi melaporkan bahwa Hallak tampak panik setelah diteriaki polisi Israel.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyebut kematian Hallak sebagai “sebuah tragedi” yang disayangkan oleh “seluruh publik Israel, serta seluruh Pemerintah Israel”.