Latihan ini berada di bawah pengawasan langsung Panglima IRGC Mayor Jenderal Mohammad Pakpour. Dalam latihan tersebut, IRGC mengerahkan berbagai peralatan tempur, termasuk sejumlah persentaan misterius yang belum pernah diumumkan ke publik secara resmi.
Tangsiri menyebut sebagian alutsista yang digunakan telah diperkenalkan ke publik, namun ada pula kemampuan baru yang masih dirahasiakan. Penggunaan “senjata misterius” ini disebut-sebut sebagai bagian dari strategi deterrence atau efek gentar terhadap kekuatan asing.
Selain manuver tempur, unit respons cepat Angkatan Laut IRGC juga dilatih untuk melakukan intervensi, inspeksi, bahkan penyitaan kapal yang melintas tanpa izin di perairan strategis tersebut. Langkah ini mempertegas sikap Iran bahwa pengamanan Teluk Persia dan Selat Hormuz merupakan tanggung jawab penuh mereka.
Selat Hormuz merupakan jalur sempit namun krusial yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab. Lebih dari 80 kapal tanker minyak dan kapal kontainer melintasinya setiap hari, menjadikannya salah satu choke point energi terpenting di dunia.
Iran juga menyebut pulau-pulau di sekitar Teluk Persia dan Selat Hormuz sebagai “benteng yang tak tertembus”.
Pertahanan pulau-pulau tersebut menjadi bagian integral dari strategi militer IRGC dalam menjaga kendali atas perairan itu.