Freeman menambahkan, AS datang dengan asumsi keliru bahwa pihak yang mampu menghancurkan lawan akan memenangkan konflik. Dengan keyakinan tersebut, delegasi AS merasa berada di atas angin dan mencoba menekan Iran selama pembicaraan.
Namun, pendekatan itu justru menjadi bumerang. Iran, yang menganggap konflik ini sebagai ancaman eksistensial, menunjukkan keteguhan dan bergeming sedikit pun. Sementara itu, delegasi AS dinilai kurang memiliki pengalaman teknis dibandingkan tim Iran.
“Iran tetap teguh. Delegasi mereka terdiri dari diplomat berpengalaman dan ahli teknis, sementara tim AS memiliki banyak koneksi politik tapi kurang keahlian,” kata Freeman.
Perundingan yang berlangsung selama 21 jam itu gagal menghasilkan kesepakatan. Delegasi AS yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance pun pulang dengan tangan hampa.
Sehari setelah kegagalan tersebut, Presiden Donald Trump mengumumkan langkah keras dengan memblokade Selat Hormuz. Dia bahkan memerintahkan Angkatan Laut AS untuk mencegat kapal-kapal yang membayar biaya kepada Iran untuk melintasi jalur vital tersebut.