“Sekarang setelah kita mencapai keberhasilan yang belum pernah terjadi sebelumnya ini, dan mampu mengendalikan Hamas, saatnya membiarkan Bibi (Netanyahu) menyatukan Israel dengan mengampuninya, dan mengakhiri perang hukum itu untuk selamanya,” tulis Trump.
Dorong Perluasan Perjanjian Abraham
Trump juga menyebut Netanyahu tengah melakukan upaya diplomasi berkelanjutan untuk memperluas Perjanjian Abraham, kesepakatan yang menormalisasi hubungan Israel dengan sejumlah negara Arab. Ia mengklaim Netanyahu memainkan peran penting dalam mendorong lebih banyak negara Timur Tengah untuk bergabung dalam perjanjian tersebut.
“Isaac, kita telah menjalin hubungan hebat, hubungan yang sangat saya syukuri dan hormati, dan kita sepakat segera setelah saya dilantik pada Januari bahwa fokus harus dipusatkan, pada akhirnya untuk memulangkan para sandera dan menyelesaikan perjanjian damai,” tulis Trump dalam bagian lain suratnya.
Trump bahkan sempat mengulang klaim keliru bahwa ia telah “mengamankan perdamaian di Timur Tengah sejak 3.000 tahun lalu,” meski Israel baru berdiri pada 1948, sementara gerakan Zionis sendiri baru muncul pada akhir abad ke-19.
Analis menilai, langkah Trump meminta pengampunan untuk Netanyahu bisa dianggap sebagai bentuk campur tangan politik asing dalam sistem hukum Israel, yang hingga kini masih memproses kasus dugaan suap dan penipuan terhadap sang perdana menteri.
Meski jabatan Presiden Israel bersifat seremonial, Herzog tetap memiliki wewenang konstitusional untuk memberikan grasi dan amnesti. Namun, selama persidangan Netanyahu masih berjalan, langkah pengampunan tidak bisa dilakukan.
Surat pribadi Trump ini menandai intervensi politik paling eksplisit dari mantan presiden AS terhadap urusan domestik Israel, sekaligus mempertegas kedekatannya dengan Netanyahu, yang tengah berjuang mempertahankan kekuasaan di tengah tekanan hukum dan kritik internasional atas perang Gaza.