Meskipun perusahaan tersebut bersikeras memiliki kebijakan tanpa toleransi terhadap penyalahgunaan dan menyatakan mereka memblokir pengguna yang melanggar, fakta menunjukkan hal yang sebaliknya. Aplikasi Telegram yang didirikan oleh miliarder Rusia Pavel Durov pada tahun 2013, banyak dikritik karena menolak untuk membagikan data pengguna dengan lembaga pemerintah sehingga membuatnya terkenal sebagai surga bagi aktivitas terlarang.
Telegram beroperasi di bawah bayang-bayang layanan pesan terenkripsi sehingga menyulitkan deteksi dan intervensi oleh pihak berwenang dalam kasus-kasus seperti ini. Akibatnya, komunitas-komunitas yang mempromosikan dan memfasilitasi kekerasan seksual tetap bermunculan.
Kasus ini menyoroti peran platform daring dalam memfasilitasi kekerasan seksual, seperti kasus pemerkosaan massal di Prancis. Dominique Pelicot menggunakan situs web untuk merekrut kaki tangan, memanfaatkan anonimitas dan jangkauan internet untuk melakukan kejahatannya.
Pengungkapan grup Telegram "obrolan pemerkosaan" berisi 70.000 orang ini juga tepat pada hari terakhir persidangan Pelicot yang dijatuhi hukuman 20 tahun penjara karena membius, memperkosa, dan melakukan pelecehan seksual terhadap istrinya Gisele Pelicot selama beberapa tahun di Desa Mazan, Prancis. Dia memperkosa sang istri dengan mengundang 50 pria lainnya yang juga divonis bersalah.
Pelicot dan para pria tersebut berbagi gambar dan video langsung tentang pemerkosaan Gisele. Berapa di antaranya membanggakan tindakan mereka. Mengerikannya, mereka bahkan menyediakan tautan ke toko daring yang menjual obat penenang, namun disamarkan sebagai produk sehari-hari.
Para kritikus dengan keras menyatakan, anonimitas yang disediakan oleh platform seperti Telegram membuat orang-orang berani berbagi dan bertindak berdasarkan kecenderungan predator mereka tanpa takut akan akibatnya langsung. Kasus Pelicot menjadi momen penting yang mengungkap meluasnya kekerasan seksual yang difasilitasi oleh interaksi secara daring, termasuk Telegram.