Perdana Menteri Lebanon Najib Mikati mengutuk serangan terhadap permukiman itu sebagai upaya untuk menggagalkan gencatan senjata yang diprakrasai Amerika Serikat.
"(Mengandung) Pesan langsung dan berdarah untuk menolak semua upaya dan kontak yang sedang berlangsung (untuk mengakhiri perang. (Israel) sekali lagi menulis dengan darah warga Lebanon penolakan yang kurang ajar terhadap solusi yang sedang dibahas," kata Mikati, dalam pernyataan yang dikeluarkan kantor presiden, seperti dikutip dari Al Jazeera, Senin (25/11/2024).
Joseph Borrell, kepala urusan luar negeri Uni Eropa, menyerukan tekanan lebih keras kepada Israel dan Hizbullah untuk mencapai kesepakatan. Kesepakatan itu sedang menunggu persetujuan akhir dari pemerintah Israel.
"Kita hanya melihat satu kemungkinan jalan ke depan, gencatan senjata segera dan implementasi penuh Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701," kata Borrell.
Borrell mengatakan, UE menyiapkan 200 juta euro untuk membantu militer Lebanon serta akan mengerahkan pasukan tambahan ke di wilayah selatan atau perbatasan dengan Israel.