“Mereka datang ke sini jauh dari rumah, dengan satu tujuan, untuk melayani perdamaian. Mereka melakukannya dengan berani. Mereka melakukannya dengan terhormat. Mereka melakukannya hingga akhir hayat,” ujarnya, dalam keterangan resmi UNIFIL.
Abagnara menegaskan, pengorbanan para prajurit tidak akan dilupakan dan akan selalu menjadi bagian dari sejarah misi perdamaian PBB.
Insiden pertama terjadi saat Praka Farizal gugur akibat ledakan proyektil di pos UNIFIL dekat Adchit Al Qusayr pada 29 Maret. Serangan tersebut juga melukai tiga prajurit Indonesia lainnya, termasuk satu dalam kondisi kritis.
Sementara itu, Kapten Zulmi dan Sertu Muhammad Nur Ichwan gugur sehari kemudian setelah kendaraan yang mereka tumpangi terkena bom pinggir jalan di dekat Bani Hayyan. Dua prajurit lainnya turut mengalami luka-luka.