Kendati demikian, dia tidak begitu yakin berbagai peralatan yang ditinggalkan Amerika tersebut bakal memberi nilai tambah yang siginifikan bagi kekuatan militer Taliban. Pada akhirnya, kata Mittal, nasib alutsista itu akan berakhir seperti kuburan peralatan tempur Uni Soviet yang ditinggalkan di berbagai wilayah Afghanistan pada 1989.
Dalam paradenya di Kandahar beberapa waktu lalu, Taliban memang dapat mengoperasikan Humvee lapis baja. Namun, kendaraan itu boleh dibilang sudah jarang dipakai Angkatan Darat AS lantaran kurangnya perlindungannya dari bom pinggir jalan.
Taliban juga sah-sah saja memamerkan beberapa peralatan militer baru yang mereka rebut selama berkuasa, termasuk kendaraan perlindungan penyergapan tahan ranjau, helikopter Black Hawk, dan drone pengumpul intelijen.
“Tapi harus diperjelas bahwa Amerika Serikat tidak memberikan peralatan paling mutakhir di dunia kepada Tentara Nasional Afghanistan. Kendaraan ini semuanya telah dilucuti dari elektronik sensitif sebelum diberikan kepada Angkatan Darat Afghanistan atau ditinggalkan oleh pasukan NATO,” ujar Mittal.
Selain itu, kata dia, ada ketidakselarasan antara kemampuan kendaraan tempur tersebut dan jenis operasi yang akan dilakukan Taliban. Sebagai contoh, Taliban telah menghabiskan minggu lalu bertempur di Lembah Panjshir. Meskipun mereka mengklaim telah merebut provinsi itu dari kelompok oposisi, pertempuran kemungkinan akan berlanjut.