Untuk memenuhi kebutuhan air, warga kota mengandalkan pasokan dari sumber mata air yang cukup jauh dari lingkungan. Air bersih merupakan barang mewah di Jacobabad. Mereka harus mengeluarkan seperlima atau seperdelapan dari pendapatan rumah tangga untuk mendapatkannya. Itu pun seringkali belum cukup untuk kebutuhan sehari-hari.
Pejabat setempat mengatakan kekurangan air disebabkan oleh pemadaman listrik. Tak ada listrik berarti air tidak bisa disaring dan dikirim melalui pipa ke penjuru kota.
Seorang warga, Rubina, mengatakan dia harus berendam di air setiap kali memasak di rumah. Dia bisa pingsan jika tak melakukannya, meski tak beraktivitas di luar rumah.
Menggoreng bawang dan okra di api bisa membuat dia pusing karena suhu panas.
"Pada hari-hari panas tanpa ada air, tanpa listrik, kami bangun dan satu-satunya hal yang kami lakukan adalah berdoa," tuturnya.
Warga lainnya, Sonari, sedang hamil besar sambil bekerja keras di bawah terik matahari. Dia sehari-hari pergi ke ladang melon.