Belakangan, barulah terungkap bahwa Tarrant mulai membangun gudang senjata, tak lama setelah dia mendirikan rumah di Kota Dunedin. Tujuan membangun gudang senjata itu hanya satu, yaitu menebar kekejaman terhadap komunitas Muslim di Selandia Baru.
Setelah melalui persiapan yang matang, rencana jahat tersebut berakhir dengan sangat mengerikan pada 15 Maret 2019. Ketika itu, Tarrant menyerang dua masjid di Kota Christchurch, dan menyiarkan aksi kejinya itu secara langsung lewat Facebook.
“Dia (Tarrant) bermaksud untuk menanamkan rasa takut kepada orang-orang yang dia gambarkan sebagai ‘penjajah’, termasuk populasi Muslim atau lebih umumnya imigran non-Eropa,” kata jaksa Barnaby Hawes dalam sidang vonis Tarrant di Pengadilan Tinggi Christchurch, minggu ini, dikutip AFP.
Di saat masyarakat dunia penasaran untuk mencari tahu siapa sebenarnya sosok Tarrant, sejumlah mantan teman dan koleganya telah ditanyai mengenai latar belakang sang teroris dan kemungkinan motivasinya membantai umat Islam.
Penjelasan tentang hal itu kemudian muncul dari mereka yang mengatakan bahwa Tarrant adalah seorang penyendiri yang canggung dalam pergaulan sosial. Dia menjadi pecandu gym setelah sering dirundung atau di-bully saat remaja karena masalah kelebihan berat badan.