Tarrant juga tampaknya terpukul keras ketika ayahnya meninggal karena kanker pada 2010 di usia 49 tahun. Penjelasan yang diperoleh para wartawan sejauh ini cuma itu.
Akan tetapi, tidak ada teman atau rekan kerjanya yang bisa menjelaskan kebencian yang membakar jiwa Tarrant hingga menjadikannya seorang penjahat. Tak ada keterangan yang memadai soal penyebab dia membenci umat Islam dan orang-orang kulit berwarna sedemikian rupa.
Hal yang patut diperhatikan pada kepribadian Tarrant tampaknya adalah kerentanannya terhadap kebencian di dunia maya. Hal itu pada akhirnya mendorongnya untuk mempersenjatai diri dan membagikan aksi pembantaiannya di media sosial melalui kamera GoPro yang dipasang di helm, saat menyerang masjid dan Pusat Islam di Christchurch.
Semakin terisolasi di dunia nyata, Tarrant menjadi betah untuk berlama-lama di dunia maya yang menyediakan ruang obrolan bagi kaum ekstremis. Dia juga berbagi meme dan lelucon rasial dengan berbagai kenalan daring yang kian mendorong pandangan radikalnya.
Jaksa Mark Zarifeh, mengutip dari wawancara yang dilakukan otoritas penjara dengan Tarrant pada April lalu, berusaha menggambarkan keadaan pikiran sang teroris pada saat penyerangan berlangsung.