Meskipun kedua negara telah sepakat untuk memperpanjang satu-satunya perjanjian pengendalian senjata yang tersisa, New START, penerapan perjanjian tersebut saat ini ditangguhkan dan kemungkinan tidak akan dilanjutkan hingga ada resolusi atas perang Rusia di Ukraina.
Rusia juga mencabut ratifikasi Perjanjian Larangan Uji Coba Senjata Komprehensif sebagaimana AS yang belum meratifikasinya. Sejak kedua negera meneken perjanjian tersebut pada 1996, AS belum pernah meratifikasinya.
Tak diketahui pasti berapa hulu ledak nuklir China. Namun para ilmuwan memperkirakannya sekitar 410 hulu ledak, sementara Departemen Pertahanan AS (Pentagon) mengklaim jumlahnya lebih dari 500 dan terus bertambah.
Disebutkan, lebih dari 100 hulu ledak dipasang pada rudal balistik antar-benua (ICBM) yang bisa menjangkau AS.
China telah mengembangkan senjata nuklir sejak Perang Dingin dengan cara yang relatif masih sederhana. Namun, tiga pilar kekuatan nuklir, triad nuklir, sedang dalam proses pengembangan dan perluasan. China membangun tiga silo ICBM di tiga lokasi wilayah barat laut negara itu.
Tidak seperti Rusia dan AS, Tiongkok tidak menempatkan rudalnya dalam kondisi siaga. Sebagian besar hulu ledak tidak terpasang pada rudal mereka selama masa damai.