Jemaah dianjurkan memakai pakaian berbahan katun tipis, cerah, dan sangat longgar agar keringat bebas menguap. Lebih dari itu, setiap individu dituntut untuk merespons cepat sinyal darurat yang dikirimkan oleh tubuhnya sendiri.
Kram otot, pusing berputar, hingga detak jantung yang berpacu kencang adalah batas akhir ketahanan fisik manusia. Jika tubuh tiba-tiba berhenti berkeringat dan kulit terasa kering terbakar, jemaah sudah memasuki fase mematikan dari heatstroke.
"Segera cari petugas kesehatan jika jemaah mulai mengalami gejala mulai dari kram otot, pusing berputar, mual, jantung berdebar cepat, atau keringat keluar sangat deras," ucap Fathi.
Solidaritas dan kepedulian antar-jemaah menjadi kunci keberhasilan dalam menghadapi cuaca ekstrem Armuzna tahun ini. Negara menjamin petugas medis bersiaga 24 jam penuh untuk mengeksekusi setiap rujukan gangguan kesehatan.