MAKKAH, iNews.id - Jutaan tamu Allah yang memadati Padang Arafah pada Senin (25/5/2026) dihadapkan pada cuaca ekstrem saat puncak wukuf berlangsung. Suhu di kawasan tersebut diprediksi mencapai 45 hingga 47 derajat Celsius.
Kondisi udara gurun Makkah yang kering dengan tingkat kelembapan hanya 28 persen disebut dapat memperburuk situasi. Cuaca tersebut berpotensi memicu dehidrasi secara cepat, terutama bagi jemaah haji Indonesia yang tidak terbiasa dengan suhu panas ekstrem.
Paparan sinar matahari di Arafah juga dipastikan akan terasa sangat menyengat di kulit jemaah, seperti berada di dekat oven bersuhu 49 derajat Celsius.
Merespons kondisi tersebut, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI mengaktifkan protokol mitigasi heatstroke atau sengatan panas bagi jemaah haji. Di tengah jutaan orang yang berkumpul di Arafah, intervensi mandiri dari masing-masing individu dinilai menjadi langkah penyelamatan paling efektif.
Dokter PPIH Arab Saudi, Muhammad Fathi Banna Al Faruqi menjelaskan, jemaah tidak boleh pasif menunggu bantuan medis datang. Mereka wajib memahami teknik membuang panas tubuh secara instan dan tepat sasaran.