Dalam pandangannya, ketegasan menjadi kunci utama untuk menghentikan kegaduhan. Jika memang ingin mempertahankan rumah tangga, maka langkah rekonsiliasi perlu ditempuh secara terbuka dan jelas. Namun jika memilih berpisah, proses hukum harus segera diselesaikan tanpa menggantung.
Lechumanan mengaku tidak yakin perceraian benar-benar akan terjadi dalam waktu dekat. Dia menilai selama status tersebut belum diputus secara hukum, polemik akan terus memiliki ruang untuk berkembang.
Dia juga menduga polemik ini sengaja dimanfaatkan untuk mendongkrak popularitas. Bahkan, dia menyinggung kemungkinan adanya keuntungan berupa kontrak pekerjaan atau endorse yang muncul dari ramainya pemberitaan.
“Dugaan saya jelas-jelas menggunakan perkara ini untuk mendompleng nama dia, untuk menaikkan popularitas,” ucap Lechumanan.
Menurutnya, jika perceraian benar-benar terjadi dan status resmi berakhir, perhatian publik bisa saja mereda. Kondisi itu berpotensi membuat isu yang selama ini ramai perlahan menghilang dari sorotan.
Meski demikian, kuasa hukum Inara tetap membuka ruang penyelesaian secara kekeluargaan. Dia berharap momentum Ramadan dapat dimanfaatkan untuk introspeksi dan mengambil keputusan yang tegas serta bermartabat.
“Kalau mau akhiri, akhiri baik-baik. Jangan digantung-gantung,” kata Lechumanan.
Dia menekankan apa pun pilihan yang diambil, baik melanjutkan rumah tangga maupun mengakhirinya, harus dilakukan secara jelas. Ketegasan sikap dinilai penting agar tidak terus memicu spekulasi dan kegaduhan yang semakin meluas di tengah masyarakat.