Pierre Tendean yang saat itu sedang tidur di paviliun yang berada di samping rumah dinas Jenderal Nasution dibangunkan oleh putri sulung sang Jenderal, Yanti Nasution. Dengan cekatan, Pierre pun segera berlari ke bagian depan rumah dan dia ditangkap oleh gerombolan G30S.
Pierre Tendean lalu dibawa ke sebuah rumah di daerah Lubang Buaya bersama enam perwira tinggi lainnya Soeprapto, Soetojo, dan Parman yang saat itu masih hidup, serta Ahmad Yani, DI Pandjaitan, dan MT Harjono yang sudah terbunuh. Pierre diketahui ditembak mati dan mayatnya dibuang ke sebuah sumur tua bersama enam jasad perwira lainnya.
Jasad Pierre Tendean bersama enam perwira lainnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Untuk menghargai jasa-jasanya, dia dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi Indonesia pada tanggal 5 Oktober 1965 berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 111/KOTI/Tahun 1965. Pasca kematiannya, Pierre Tendean secara anumerta dipromosikan menjadi kapten.
“Kapten (Czi) Pierre Andries Tendean adalah sosok perwira yang memiliki disiplin, loyalitas, dan kesetiaan luar biasa kepada atasan. Pengorbanan diri adalah pilihan terbaik dalam pengabdiannya kepada bangsa dan negara, sebagai prajurit militan yang Saptamargais,” ujar Brigjen TNI Eddy Syahputra Siahaan, dikutip dari buku Sang Patriot Kisah Seorang Pahlawan Revolusi Biografi Pierre Tendean, Rabu (29/9/2021).