Di bidang sejarah, Ibnu Majah menyusun At-Tarikh. Buku ini secara terperinci mengulas biografi para muhaddits yang hidup sebelumnya hingga biografi ualama hadits yang semasa dengannya
Ibnu Majah adalah seorang petualang keilmuan terbukti dengan banyaknya daerah yang dikunjunginya. Dikutip dari uinsby.ac.id, Imam Ibnu Majah mengembara mencari ilmu di sejumlah daerah di antaranya Khurasan (Iran), Naisabur dan kota lainnya. Selain itu, al-Ray; Iraq: Bagdad, Kufah, Basrah, wasit; Hijaz: Makkah dan madinah; Syam: Damaskus dan Hims serta Mesir. Pengembaraannya ke pelbagai negeri ini tentu tidak sia-sia. Dari sanalah Ibnu Majah memperoleh banyak hadis dan ilmu-ilmu terkait dengannya.
Ibnu Majah memang beruntung, karena ia hidup di era yang penuh dengan gairah untuk mempelajari dan mengkaji hadis-hadis Nabi. Semangatnya yang besar untuk mempelajari hadits didukung oleh kondisi masyarakat saat itu yang juga bersemangat mengumpulkan dan membukukan hadits-hadits Nabi, sehingga jadilah ia seorang ulama hadits yang sangat terkemuka.
Tak bisa dimungkiri, Ibnu Majah bisa menjadi seorang ulama hadits terkemuka berkat pengajaran yang diberikan guru-gurunya. Tidak sedikit guru hadis yang didatangi oleh Ibnu Majah dalam proses belajarnya.
Guru pertama Ibnu Majah adalah Ali bin Muhammad al-Tanafasy dan Jubarah ibn al-Muglis. Sejumlah nama guru Ibnu Majah yang banyak menyumbangkan hadis antara lain Mus’ab ibn Abdullah al-Zubairi, Abu Bakar ibn Abi Syaibah, Muhammad ibn Abdullah ibn Namir, Hisyam ibn Amar, Muhammad ibn Rumh dan masih banyak guru yang lain.