Lapar dan haus yang kita rasakan, setidaknya itu akan berakhir tatkala azan magrib berkumandang, namun bagaimana dengan mereka ? yang benar-benar tidak memiliki sesuatu yang dapat mengganjal perut mereka saat kelaparan, yang tidak dapat mengepulkan asap dapur saat anak-anak mereka merengek karena perut yang melilit akibat kosong tiada sesuatu yang dicerna.
الجُوْعُ الّذِي يَمُرُّ بِهِ الصَّائِمُ وَقْتُهُ مَعْلُوْمٌ
أَمَّا الْجُوْعُ الّذي يَمُرُّ بِهِ الْفَقِيْرُ فَوَقْتُهُ مَجْهُوْلٌ
“Lapar yang dirasakan oleh orang puasa itu waktunya diketahui
Sedangkan lapar yang dirasakan oleh orang fakir itu waktunya tak terbatas”.
Islam bukan hanya mengajak kita untuk turut sekedar merasakan, tapi juga memberikan solusi untuk mengentaskan kemiskinan atau setidaknya mengurangi beban mereka para fakir-miskin Yaitu dengan cara berzakat. Maka kita harus benar-benar mengingat, ketika Allah SubhanahuWaTa’alamemberikan kelebihan harta kepada kita, disana ada hak-hak fakir-miskin yang harus kita tunaikan. Sehingga kita bisa menjadi pribadi yang tidak sekedar berpredikat sholeh spiritual tetapi juga sholeh secara sosial.
Ma‘aasyiral muslimin wal muslimat rahimakumullaah,
Hal ketiga adalah kita diajak untuk bersyukur dengan situasi saat ini yang tengah kita rasakan bersama. Di masa pandemi tahun kedua ini, kita diberikan keleluasaan untuk melaksanakan ibadah selama bulan ramadan, walaupun itu tetap dijalankan dengan menerapkan protokoler kesehatan, setidaknya kita bisa secara maksimal melangsungkan ibadah di masjid-masjid dan mushala.
Melaksanakan shalat fardhu berjamaah, sholat tarawih bersama, juga beberapa ibadah lain yang dapat kita lakukan di bulan ramadan.