Membaca hadits tersebut secara keseluruhan, ibadah tarawih yang dilakukan setiap malamnya memiliki keutamaan masing-masing. Meski seluruhnya terdengar baik dan indah, jangan buru-buru untuk meyakini keshahihannya. Pasalnya terdapat beberapa keganjilan yang dalam hadits tersebut.
Dikutip dari situs Muslim, hadits tersebut tidak terdapat dalam kitab-kitab hadits yang mu’tamad. Hal itu mengindikasikan kuat bahwa hadits tersebut adalah palsu.
Bahkan yang dirasa sangat ganjil adalah isi redaksi yang menyebutkan tentang pahala-pahala dari setiap tarawih. Misalnya saja pada malam ke-17 yang dirasa kurang masuk akal untuk sebuah ibadah sunnah karena menyebut pahalanya setara dengan pahala para nabi.
Jika ingin lebih objektif lagi, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja Center Jember, Ustadz Abdul Wahab Ahmad, memberikan penjelasan mendasar seperti yang disampaikan di laman Islam NU.
Disebutkan bahwa istilah 'Tarawih' saja baru muncul belakangan ketika ibadah tersebut diidentikkan dengan shalat berjamaah yang punya jeda istirahat (tarwihah) setiap dua kali salam hingga genap 10 kali salam (20 rakaat).