JAKARTA, iNews.id - Sejumlah peristiwa di Bulan Dzulqa'dah yang sangat penting perlu umat Islam ketahui. Bulan Dzulqa’dah merupakan bulan ke-11 dalam penanggalan Hijriah.
Perlu diketahui dan diingat kembali bahwa bulan Dzulqa’dah ini termasuk salah satu bulan dari empat bulan yang dimuliakan oleh Allah, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur'an.
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
Artinya: Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah 12 bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya terdapat empat bulan haram (mulia). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu (QS. At-Taubah: 36)
Banyak peristiwa yang patut diambil hikmah dan pembelajarannnya terkait dengan ditetapkannya bulan Dzulqa’dah dikategorikan salah satu bulan mulia oleh Allah Swt. Berikut beberapa peristiwa yang dapat diambil hikmahnya.
1. Perjanjian Hudaibiyah
Perjanjian Hudaibiyah ini terjadi pada tahun keenam setelah Rasulullah Saw., hijrah ke kota Madinah. Perjanjian Hudaibiyah adalah perjanjian antara kaum muslimin yang diketuai oleh Rasulullah langsung, dengan kaum Quraisy yang berada di kota Makkah. Saat itu Rasulullah bersama dengan para sahabat (jamaah haji), dilarang memasuki kota Makkah.
Pada salah satu poin perjanjian Hudaibiyah tersebut, pihak Quraisy sepakat untuk tidak berperang dengan kaum muslimin selama 10 tahun. Setelah disepakati, Rasulullah pulang ke Madinah walaupun ada sebagian sahabat yang tidak setuju dengan perjanjian Hudaibiyah tersebut.
2. Rasulullah SAW Umrah 4 Kali
Peristiwa di Bulan Dzulqa'dah berikutnya yakni, Rasulullah Saw., selama hidupnya pernah melaksanakan ibadah umrah sebanyak empat (4) kali, dan pelaksanaannya dilaksanakannya pada bulan Dzulqa’dah. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits riwayat Imam Bukhari dari Anas bin Malik Ra:
اعْتَمَرَ رَسُولُ اللهِ صلعم أَرْبَعَ عُمَرٍ، كُلَّهُنَّ فِي ذِي القَعْدَةِ، إِلَّا الَّتِي كَانَتْ مَعَ حَجَّتِهِ، عُمْرَةً مِنَ الحُدَيْبِيَةِ فِي ذِي القَعْدَةِ، وَعُمْرَةً مِنَ العَامِ المُقْبِلِ فِي ذِي القَعْدَةِ، وَعُمْرَةً مِنَ الجِعْرَانَةِ، حَيْثُ قَسَمَ غَنَائِمَ حُنَيْنٍ فِي ذِي القَعْدَةِ، وَعُمْرَةً مَعَ حَجَّتِهِ
Rasulullah Saw. berumrah sebanyak empat kali, semuanya pada bulan Dzulqa’dah kecuali umrah yang dilaksanakan bersama haji beliau, yaitu satu umrah dari Hudaibiyah, satu umrah pada tahun berikutnya, satu umrah dari Ji’ranah ketika membagikan rampasan perang Hunain dan satu lagi umrah bersama haji.