Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Teks Khutbah Jumat Setelah Idul Adha 29 Mei 2026: Makna dan Hikmah Kurban
Advertisement . Scroll to see content

Teks Khutbah Jumat 5 Juni 2026 Singkat Menyentuh Hati: Tanda-Tanda Haji Mabrur

Kamis, 04 Juni 2026 - 17:00:00 WIB
Teks Khutbah Jumat 5 Juni 2026 Singkat Menyentuh Hati: Tanda-Tanda Haji Mabrur
Umat islam khusyuk mendengarkan Khutbah Jumat di Masjid Istiqlal, Jakarta. (Foto: Dok.iNews)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Teks khutbah Jumat 5 Juni 2026 bertepatan 19 Dzulhijjah 1447 H mengusung tema tanda-tanda haji mabrur. Saat ini, jutaan umat Islam sudah ulai kembali ke Tanah Air setelah  melaksanakan ibadah haji yang merupakan rukun Islam kelima. 

Ibadah haji ini wajib dijalankan bagi tiap Muslim yang mampu baik fisik maupun secara materi. Ibadah haji adalah berkunjung ke Baitullah (Ka’bah) untuk melakukan amalan-amalan ibadah, antara lain wukuf, mabit, thawaf, sa’i, dan lainnya pada masa tertentu, demi memenuhi panggilan Allah SWT dan mengharapkan ridha-Nya.

Ibadah haji dilaksanakan pada bulan haji (Dzulhijjah), tepatnya ketika waktu wukuf di Arafah tiba (9 Dzulhijjah), hari Nah{r (10 Dzulhijjah), dan harihari Tasyriq (11, 12, dan 13 Dzulhijjah).

Berikut teks khutbah Jumat singkat tentang meraih haji mabrur dilansir dari naskah khutbah Jumat yang dikutip dari laman Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Teks Khutbah Jumat 5 Juni 2026 Singkat Menyentuh Hati

Khutbah I

الحَمْدُ للهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ،

أَمَّا بَعْدُ، عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ المَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ:يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسٞ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٖۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ 

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Mengawali khutbah yang singkat ini, khatib berwasiat kepada kita semua, terutama kepada diri khatib pribadi untuk senantiasa berusaha meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allâh ta’ala, satu-satunya Tuhan yang wajib dan berhak disembah, Pencipta segala sesuatu, yang menakdirkan terjadinya segala sesuatu, Mahakuasa atas segala sesuatu, tidak membutuhkan kepada segala sesuatu dan berbeda dengan segala sesuatu, yang tidak membutuhkan kepada tempat dan arah serta Mahasuci dari bentuk dan ukuran.  

Jamaah shalat Jumat yang berbahagia..

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا والْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ (رواه مالك وأحمد في مسنده والبخاري ومسلم والأربعة)

“Umrah ke umrah berikutnya adalah penghapus dosa di antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.” (HR. Malik, Ahmad, al-Bukhari, Muslim dan al-

Arba’ah [Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’ai, Ibnu Majah])

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

مَنْ حَجَّ هٰذَا الْبَيْتَ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَمَا وَلَدَتْهُ أُمُّهُ (رواه

 البخاري ومسلم وغيرهما)

“Barang siapa yang berhaji ke Baitullah, lalu tidak bersetubuh (selama masih dalam rangkaian ibadah haji) dan tidak melakukan dosa besar, maka ia akan kembali (bersih dari dosa-dosanya) seperti saat dilahirkan ibunya” (HR. al-Bukhari, Muslim dan lainnya)

Haji mabrur adalah haji yang diterima Allah SWT, yaitu haji yang dilakukan dengan niat ikhlash semata-mata karena Allah SWT, dengan harta yang halal dan baik, menjauhi dosa-dosa besar selama haji dan melakukan haji sesuai dengan tuntunan Rasulullah. Oleh karena itulah, Baginda Nabi bersabda:

اللهم حِجَّة لَا رِيَاءَ فِيهَا وَلاَسُمْعَةَ (أخرجه ابن ماجه)

“Ya Allah, jadikanlah haji kami murni karena-Mu, tidak ada riya’ (niat agar dilihat dan dipuji orang lain) dan sum’ah (niat agar didengar, memperoleh popularitas dan dipuji orang lain) di dalamnya.” (HR. Ibnu Majah).

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut