"Dan, tidak ada orang yang rela anak yang dicintai ditembak atau dibunuh.
Wawan itu anak yang menyenangkan. Hobinya membaca. Dia di kamar mandi pun selalu baca koran, atau bawa komik atau buku.
Kalau hari Sabtu, hari Minggu, kami masak bersama-sama. Pada saat makan bersama itu, jam berapa pun makan malam bersama kami bercerita tentang keseharian, dari pembicaraan yang sederhana, kami membicarakan masalah politik, karena pada tahun '97, '98, masalah politik di Indonesia semakin memanas. Setelah pembicaraan sampai kepada masalah politik selalu ditutup dengan 'besok dimasakin apa?'.
Karena pada tahun '98 itu demonstrasi dari hari ke hari semakin membesar, tahun '98 terjadi tragedi kemanusiaan yang sudah diselidiki oleh Komnas HAM yaitu dalam berkas tragedi penembakan mahasiswa, peristiwa Semanggi 1, Semanggi 2, Trisakti... Kemudian berkas kerusuhan 13, 15 Mei '98 dan berkas penghilangan paksa atau penculikan aktivis pro-demokrasi.
Wawan mahasiswa Atma Jaya juga aktif di masyarakat dengan ikut anggota Tim Relawan untuk Kemanusiaan. Mengadvokasi korban 13, 15 Mei ’98 sebagai anggota tim relawan kemanusiaan. Setiap Wawan datang ke rumah sakit yang diminta adalah obat-obatan untuk teman-temannya yang berdemonstrasi.
Dan menurut kesaksian, pada tanggal 13 November hari Jumat itu, jam 10 pagi, bersama enam orang temannya, Wawan menetralisir gas air mata di depan kampus Atma Jaya dengan menyemprotkan air hidran.