Terapi inovatif tersebut antara lain ExiSlim, Exitite, dan ExiClear. Terapi Exislim misalnya, itu adalah teknologi yang memiliki banyak fungsi, yakni mengencangkan kulit, melembapkan, memperbaiki tekstur, mengecilkan pori, memperbaiki scars, dan lain-lain.
"Salah satu cara kerja terapi berbasis AI ini yaitu meningkatkan kolagen, elastin, dan hyaluronic acid," jelas dr Arini.
Seperti dijelaskan di awal, pemanfaatan teknologi AI di 2025 akan banyak di ranah diagnosis masalah kulit. Dengan begitu dokter akan lebih tepat menangani masalah kulit yang dialami pasien.
Dokter Arini mengatakan, salah satunya adalah hyper personalization therapy yang menjadi gold standard pada perawatan kulit, berkat adanya AI based skin analyzer. Fungsi dari alat AI based skin analyzer adalah untuk mengenali masalah kulit yang sangat presisi.
"Sehingga, setiap orang bisa mendapatkan terapi sesuai dengan jenis dan masalah kulit masing-masing. Hal ini juga bisa menghemat budget terapi, karena kita tidak memilih terapi yang tidak dibutuhkan," ungkap dr Arini.