“Kita tak bisa berharap anak jadi sopan kalau mereka tak pernah mendengar orang dewasa berkata sopan. Kita juga tak bisa berharap anak jadi jujur kalau mereka selalu melihat kebohongan dibenarkan,” ucapnya.
Masalah ini semakin kompleks dengan kehadiran teknologi canggih dan kecerdasan buatan (AI). Anak-anak kini lebih banyak menghabiskan waktu di depan layar dibanding berinteraksi langsung dengan orang dewasa yang bisa menjadi teladan.
“Di era sekarang, banyak anak yang belajar dari media sosial, video game, atau chatbot. Tapi mereka tidak belajar adab dan akhlak dari sana,” jelas Kak Odja. Ia mengingatkan bahwa teknologi bisa membantu proses belajar, namun tidak bisa menggantikan peran orang dewasa dalam membentuk kepribadian.
“AI bisa bantu anak hafal cepat, tapi tak bisa bantu mereka belajar empati. Karakter hanya bisa dibentuk lewat interaksi manusiawi yang nyata,” katanya.
Untuk membangun karakter anak secara utuh, Kak Odja menegaskan perlunya sinergi antara rumah dan sekolah. “Guru tidak bisa bekerja sendiri. Orang tua juga tidak bisa menyerahkan semuanya ke sekolah. Harus ada kerja sama yang intens,” ujarnya.