Pendidikan Karakter Tak Bisa Hanya Teori: Pembiasaan dan Keteladanan Jadi Kunci yang Terabaikan
Alih-alih dimarahi atau dihukum, anak-anak seharusnya diberi ruang untuk belajar membedakan mana ucapan yang santun dan mana yang tidak pantas. Sayangnya, menurut Kak Odja, hal ini sering kali luput dari perhatian orang tua maupun guru.
“Bukan berarti anak harus dibiarkan saat berbuat salah. Tapi kita perlu sadar, bahwa bisa jadi mereka berkata begitu karena tidak pernah melihat atau mendengar contoh yang baik,” jelasnya.
Kritik tajam juga diarahkan Kak Odja kepada sistem pendidikan nasional yang dinilainya masih terlalu menekankan aspek kognitif. Ia mencontohkan banyaknya pelajaran agama dan pendidikan moral yang diajarkan di kelas hanya sebatas teori.
“Yang dibutuhkan adalah pembiasaan. Dari pembiasaan itulah karakter akan terbentuk,” tegasnya.
Menurutnya, karakter sejati dibangun dari proses yang panjang melalui interaksi harian, bukan hanya satu atau dua jam pelajaran dalam seminggu. Anak-anak perlu berada di lingkungan yang mendukung terbentuknya nilai-nilai luhur, bukan hanya dibebani teori yang tak pernah dipraktikkan.