Atas manfaat tersebut, olahraga kini menjadi salah satu rekomendasi yang kerap diberikan dokter kepada pasien. Jika dahulu pasien umumnya hanya disarankan beristirahat, makan cukup, dan mengonsumsi obat, kini aktivitas fisik juga dianggap penting untuk menjaga kesehatan jangka panjang.
“Jadi kalau di zaman dulu kamu bagi pasien datang ke dokter kamu cuma bed rest ya kan makan yang banyak terus habis itu minum obat, sekarang ditambah rajin olahraga karena ada ikatan yang kuat dengan latihan fisik dengan imunitas yang kuat dan stabil,” katanya.
Meski demikian, dr Tirta menegaskan rajin berolahraga bukan berarti seseorang kebal terhadap penyakit. Orang yang aktif berolahraga tetap dapat terinfeksi virus maupun bakteri, tetapi respons tubuh terhadap penyakit umumnya lebih terkendali.
“Kamu olahraga tetap bisa kena DB, tetap. Jadi kita tetap akan kena infeksi, tapi reaksinya tidak sampai menimbulkan infeksi sistemik yang parah. Itu bedanya ada orang yang rajin olahraga. Misal dia kena demam, reaksi demamnya itu mungkin 37,5 derajat yaitu demam subfebris. Tidak separah orang-orang yang jarang olahraga,” ucap dia.
Di sisi lain, dia mengingatkan masyarakat agar tidak berolahraga secara berlebihan, terutama bagi pemula. Aktivitas fisik yang melampaui kemampuan tubuh justru dapat berdampak negatif terhadap kesehatan.
“Cuma ada nih garis bawahnya. Orang yang berlebihan olahraganya justru imunitasnya ngedrop. Sebab ada yang namanya CNS fatigue. Makanya disarankan kalau kamu tidak siap menjadi atlet, jangan ngikutin pola hidup atlet. Karena atlet tersebut diawasin, ada pelatih,” kata dr Tirta.
Sebab itu, olahraga sebaiknya dilakukan secara rutin dengan intensitas yang sesuai kondisi tubuh. Dengan pola latihan yang tepat, manfaat olahraga untuk menjaga imunitas dan kesehatan tubuh dapat dirasakan secara optimal.