“Transplantasi ini penting karena beberapa penyakit yang ada itu terapi definitifnya atau terapi terakhirnya atau terapi satu-satunya untuk menyelamatkan hidupnya adalah dengan melakukan transplantasi,” ujarnya.
Dia juga mengungkap fakta mengejutkan bahwa sirosis hati menjadi salah satu penyebab kematian terbesar di Indonesia. Mayoritas kasus dipicu oleh infeksi hepatitis B yang masih tinggi di masyarakat.
“Sirosis hepatis atau cirosis hati ini menemati ulutan ketiga kematian terbesar di Indonesia. Dan kebanyakan karena infeksi hepatitis B,” kata dia.
Untuk mendukung penanganan penyakit ini, pemerintah telah menyiapkan rumah sakit rujukan yang mampu melakukan transplantasi hati. Tiga fasilitas tersebut adalah RS Cipto Mangunkusomo, RSUP Dr Sardjito, dan RSUP Fatmawati.
Dia memastikan layanan transplantasi di Indonesia kini tidak kalah dengan luar negeri. Selain didukung tim dokter berpengalaman, pembiayaan juga dapat ditanggung BPJS sehingga lebih terjangkau bagi masyarakat.
“Timnya sudah lengkap, dokter bedah digestifnya saja saya hitung yang ikut itu ada lima ya, ada lima dokter bedah digestif yang ikut dalam proses transplantasi hepar ini,” ujar dia.
Kisah pengorbanan seorang anak demi menyelamatkan ayahnya ini menjadi simbol harapan baru. Transplantasi hati kini bukan hanya prosedur medis, tetapi juga bukti bahwa peluang hidup masih terbuka bagi pasien sirosis di Indonesia.