Kanker kolorektal juga menempati posisi atas dalam daftar kasus terbanyak. Begitu pula kanker paru yang jumlahnya cukup signifikan di kedua negara, meski terdapat faktor risiko berbeda.
Namun, ada sejumlah perbedaan mencolok yang dipengaruhi gaya hidup masyarakat. Di Indonesia, angka kanker paru dinilai cukup tinggi, salah satunya berkaitan dengan kebiasaan merokok yang masih kuat di kalangan masyarakat.
“Kontrol lifestyle itu ada yang memang di Indonesia lebih tinggi dari Inggris karena perbedaan kultur atau gaya hidup,” kata dr Suyanto.
Deteksi Dini Jadi Pembeda Utama
Dr Suyanto menilai, salah satu perbedaan terbesar antara Inggris dan Indonesia terletak pada tahap saat kanker terdiagnosis. Di Inggris, kemungkinan kanker ditemukan pada stadium dini lebih besar dibandingkan di Indonesia.
Hal ini berkaitan dengan sistem layanan kesehatan, kesadaran masyarakat, serta akses terhadap pemeriksaan dan teknologi diagnostik yang lebih merata. Program skrining rutin membuat pasien di Inggris cenderung memeriksakan diri sebelum gejala berat muncul.