Dicky juga menjelaskan bahwa lingkungan gunung memperbesar risiko tersebut. Kombinasi suhu rendah, angin, dan kelembaban membuat tubuh kehilangan panas lebih cepat.
Lebih mengkhawatirkan lagi, ujar dr Dicky, gejala awal hipotermia pada anak sering tidak disadari. Anak belum mampu mengkomunikasikan kondisi tubuhnya, sementara orang tua kerap menganggap gejala seperti menggigil atau lemas sebagai hal biasa.
"Banyak kasus terlambat ditangani karena dianggap hanya kelelahan atau kedinginan biasa. Padahal sudah masuk fase berbahaya," tegasnya.
Jika tidak segera ditangani, hipotermia dapat menyebabkan gangguan serius, mulai dari penurunan kesadaran, gangguan pernapasan, aritmia jantung, hingga kematian.
Ia pun mengingatkan bahwa banyak kasus seperti ini sebenarnya bukan semata karena kondisi alam, melainkan kesalahan manusia dalam menilai risiko.
"Sering kali ini terjadi karena human error dan salah perhitungan risiko," tegas dr Dicky.