Lucia menambahkan, selanjutnya ada dialyzer yang berfungsi untuk cuci darah. Alat ini sangat penting untuk pasien gagal ginjal kronik yang akan melakukan cuci darah. Menurutnya, selama ini cuci darah merupakan salah satu penyakit yang berbiaya besar ditanggung BPJS.
"Dengan adanya dialyzer, ketersediaan alat kesehatan di klinik bisa terpenuhi, cepat, murah dan merata di seluruh Indonesia. Dengan demikian, cuci darah bisa dilakukan di klinik dan tidak perlu dirujuk jauh," kata Lucia.
Berdasarkan data Indonesia Renal Registry, tren peningkatan kasus penyakit ginjal kronis pada 2022 mencapai 63.489 pasien aktif menjalani hemodialisis dan ada 158.929 pasien terdeteksi dengan penyakit gagal ginjal kronik.
Selain penyediaan obat-obatan untuk terapi penyakit ginjal, diperlukan upaya khusus untuk mendorong ketersediaan alat kesehatan bagi hemodialisis, termasuk dialyzer. Dialyzer merupakan bahan habis pakai (consumables), penting dalam tindakan hemodialisis atau cuci darah (prosedur untuk pasien yang mengalami penurunan fungsi ginjal secara drastis).
Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prof Ali Ghufron Mukti mengatakan, BPJS tahun lalu ada tanggungan tambahan biaya di rumah sakit sebesar Rp45 triliun. Salah satunya dari penyakit gagal ginjal. "Gagal ginjal ini masuk 10 besar dengan biaya paling besar. Apalagi saat ini orang yang terkena gagal ginjal kronik makin banyak, masih muda sudah kena gagal ginjal, karena pola makan, gaya hidup dan lainnya," kata Prof Ali Ghufron.