JAKARTA, iNews.id – Demam berdarah dengue (DBD) tidak hanya mengancam keselamatan pasien saat menjalani perawatan di rumah sakit. Setelah dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang, pasien umumnya masih membutuhkan waktu satu hingga dua pekan untuk memulihkan kondisi tubuh sehingga beban ekonomi keluarga pun terus bertambah.
Temuan tersebut diungkap dalam studi Pusat Kebijakan Pembiayaan dan Manajemen Asuransi Kesehatan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM). Penelitian ini menunjukkan dampak dengue tidak hanya dirasakan dari sisi kesehatan, tetapi juga produktivitas dan pengeluaran keluarga pasien.
Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof Dr dr Sri Rezeki Hadinegoro, Sp.A(K), mengatakan masa pemulihan pasien dengue tidak berlangsung singkat. Setelah keluar dari rumah sakit, pasien biasanya masih memerlukan waktu sekitar satu hingga dua minggu hingga kondisi benar-benar pulih dan dapat kembali beraktivitas seperti biasa.
Menurut dia, kondisi tersebut membuat beban ekonomi keluarga semakin besar. Ketika anak terserang DBD, orang tua umumnya harus mendampingi selama perawatan sehingga kehilangan waktu bekerja dan produktivitas. Sebaliknya, apabila orang tua yang sakit, anggota keluarga lain harus mengambil peran sebagai pendamping.
Selain kehilangan penghasilan, keluarga juga masih harus mengeluarkan biaya nonmedis. Peneliti UGM, Dr Diah Ayu Puspandari, M.Kes MBA Apt mengungkapkan peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) atau BPJS Kesehatan masih mengeluarkan biaya pribadi (out of pocket) rata-rata Rp1,1 juta hingga Rp1,3 juta dalam satu episode sakit akibat dengue. Pengeluaran tersebut terutama digunakan untuk transportasi menuju fasilitas kesehatan dan akomodasi keluarga pendamping.