Jeda waktu tersebut, produksi sperma dinilai dapat terjaga dengan baik. Selain itu, risiko kanker prostat juga disebut dapat berkurang.
“Itu bisa tiga sampai empat hari sekali, paper-nya (hasil penelitian) mengatakan. Tiga sampai empat hari sekali rutin dikeluarkan, itu akan membuat produksi sperma menjadi bagus dan mengurangi faktor resiko CA prostat,” ujarnya.
Lebih lanjut, dr Tirta menyampaikan sperma yang dikeluarkan secara rutin memiliki kualitas lebih baik. Sebaliknya, jika terlalu lama tidak dikeluarkan, sperma bisa menumpuk di dalam sistem reproduksi pria.
Penumpukan tersebut terjadi di bagian epididimis, yakni saluran tempat penyimpanan sperma yang berada di dekat testis. Kondisi ini berpotensi memengaruhi kualitas sperma.
“Jadi karena kelamaan enggak dikeluarin, dia membantu di epididymis, di tampungan testis ya, jadi yang ganggu. Kedua, bisa mengurangi faktor resiko CA prostat itu betul. Dan itu ada paper-nya,” katanya.