JAKARTA, iNews.id - Seorang perawat bernama Rizal dengan akun X @afrkml membagikan edukasi kesehatan terkait kebiasaan “balas dendam” tidur selama Ramadan, terutama saat libur. Dia mengingatkan masyarakat agar tetap memperhatikan durasi tidur dan tidak melebihi total 9 jam dalam sehari.
Menurut Rizal, perubahan pola tidur saat Ramadan memang wajar karena adanya aktivitas sahur dan ibadah malam. Namun, dia menilai kebiasaan tidur terlalu lama untuk mengganti waktu istirahat yang hilang justru bisa berdampak buruk bagi kesehatan.
“Aku tahu beberapa dari kita memilih ‘balas dendam’ tidur selama Ramadan pas libur dengan tidur berjam-jam, terutama setelah subuhan. Tapi ingat, jangan melebihi total 9 jam dalam sehari,” tulis Rizal dalam unggahannya.
Dia menjelaskan, tidur berlebihan maupun kurang tidur sama-sama dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan. Kondisi tersebut berkaitan dengan meningkatnya potensi gangguan kardiovaskular serta masalah metabolik.
Rizal mengatakan sejumlah penelitian menunjukkan hubungan antara durasi tidur yang tidak ideal dengan peningkatan risiko gangguan jantung, gangguan metabolisme, hingga penurunan kualitas hidup secara keseluruhan.
Sebagai contoh, jika seseorang tidur selama 4 jam pada malam hari, kemudian bangun untuk sahur dan salat Subuh, lalu kembali tidur di pagi hari, maka tambahan waktu tidur sebaiknya tidak lebih dari 5 jam.
Total waktu tidur dalam sehari tetap berada di batas yang disarankan, yakni maksimal 9 jam. Cara ini dinilai membantu menjaga keseimbangan waktu istirahat tanpa memicu dampak kesehatan yang tidak diinginkan.